Yaumul Quds
Didepan kedutaan Amerika Serikat dan Gedung PBB....kami akan teriakkan....
Hancurkan Amerika .....hancurkan Israel....
Amerika setan besar.....Israel setan besar.....
Amerika pengecut.....Israel pengecut.....
Ganyang Amerika.....ganyang Israel....
Amerika kerdil.....Israel kerdil....
Pada hari Jum`at, tanggal 26 September.....minggu terakhir di bulan suci Ramadhan.....
Bagi setiap insan yang merasa pecinta dan pendamba kedamaian dan pendukung keadilan.....
Bergabunglah....bersama penyeru keadilan dan kedamaian ...walau hanya sekedar mengeringkan ludah rongga mulut...kerongkongan....
Acara Yaumul Quds akan digelar dan diadakan diberbagai kota.....
Bandung....
Jakarta......
Solo......
Semarang.....
Aceh......
Surabaya......
Dan berbagai kota lainnya...dimana suara jeritan orang terzalimi disuarakan.....
Jum`at, 26 September , Yaumul Quds (Hari Suci)
Itulah hari yang teriakan al-Imam Ruhullah al-Musawi Ali Khomeini.
Adakah insan yang telah berkoar tentang keadilan dan kebenaran berani mengecam dan menolak Amerika dan kroninya....?
Mengecam saja tidak berani....apalagi bila mereka harus melawan Amerika dan Israel serta kroni2nya....?
Adakah yang kan simpati dihari suci ini untuk menegakkan kembali Islamuddin...?
Marilah tunjukkan kepada musuh Allah itu...bahwa kita pecinta keadilan dan kedamaian masih hidup dan masih memiliki kekuatan untuk memusnahkan mereka dari muka bumi yang indah ini.....
Lewat suara nan lemah ini.... semoga kan diwujudkan oleh-Nya kekuatan nan tiada tanding dan banding......tuk melawan ketidak adilan dan kezaliman.....
posted on September 24, 2008 in Leave a comment »
Shalat Jodoh
Kamus Shalat, Karya; DR. Muhsin Labib
Hal 165(347 halaman), harga toko; Rp 79.000,-
Penerbit; Arifa Publishing
Jln Batu I no 5B
Pasar Minggu - Jakarta, 12510
Telp. (021)7900011, fax. (021)79199069
Email; arifa@Lutfiagency.com
WEb; www.lutfiagency.com
posted on September 21, 2008 in Leave a comment »
Kezuhudan Ali
Ali sudah memberikan bagaimana zuhud yang mulia dalam Islam, yang telah dianjurkan oleh syariat secara khusus terhadap orang yang memiliki posisi penting. Ali sebetulnya merupakan orang yang mampu dan bisa meraih apa yang dia mau, yang enak untuk dinikmati dan indah untuk dipandangi.
Kezuhudan seorang Ali merupakan ruang yang lebar dan pintu utama yang bisa dimasuki oleh seorang anak manusia, tanpa melakukan penyimpangan akkidah, pemikiran ataupun tingkah laku. Zuhud Ali merupakan ajakan untuk tidak terlalu berlebihan memupuk kenikmatan dengan hanya mengambil sebagiannya. Sebuah ajakan untuk sederhana dalam berpakaian, demi tercapainya tujuan yang lebih mulia. Yakni tujuan yang lebih agung dan lebih tinggi daripada makanan, minuman dan pakaian. Sebuah tujuan demi menjadi pribadi yang terbuka memnadang orang lain, terutama mereka yang tidak berhata. Bila tidak, tentu orang2 melarat itu ingin mencicipi kenikmatan itu dan bati mereka akan bertambah pilu, sehingga dia merasa nasibnya begitu malang dan menjadi merasa sangat menderita. Oleh sebab itu, dia harus bersikap santun kepada mereka sebisa mungkin, sesuai situasi yang ada.
Zuhud Islami merupakan kunci kebaikan yang akan membentuk pribadi peka terhadap penderitaan/kebutuhan orang lain, sehingga timbul rasa untuk lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri, dia rela lapar asal saudaranya kenyang, bersusah-payah demi membantu hidup layak.
Perilaku zuhud berarti meninggalkan debu2 duniawi demi mendapatkan akhirat. Orang zuhud memiliki apapun tanpa dimiliki oleh 1pun. Orang yang memiliki sebagian dari debu dunia, kemudian tidak membuatnya menjadi dermawan terhadap para fakir miskin, sama seperti orang yang tidak punya apa2. Dia justru menjadi milik dari hartanya sendiri, sehingga dirinya tidak sanggup memberikannya kepada orang lain secuilpun, tidak bisa mengeluarkan 1 dirham uangpun dari sakunya kecuali jika dia sudah mati alias sekarat. Orang seperti ini tidak berhak hidup karena dia adalah hamba yang dikuasai uangnya sendiri dan debu duniawi.
Ali sudah membangun dasar2 zuhud dan penerapannya. Mungkin, pemikiran paling cemerlang yang dapat kita tangkap dari kepribadian yang diinginkan Ali pada Nahj al-Balaghah yaitu pidato2 yang beliau ucapkandiatas mimbar, didepan generasi pada masanya. Dengarkan kata2nya, sambil merenungkan pembicaraannya, dan nikmatilah nuansanya untuk beberapa saat saja, lalu pikirkan kata2 yang diucapkan agar anda tahu betapa tinggi dan besarnya orang ini.
Khutbah Ali mencerminkan sebuah semangat yang hidup dalam dirinya, secara pemikiran dan keyakinan. Hal itu terefleksikan kedalam tindak-tanduk sehari2, sehingga tidak sedikitpun jarak antara pemikiran dan perilaku, antara jargon dan praktek, antara ucapan dan perbuatan. Ia merupakan sebuah ke1an yang padu, antara zat dan sifat. Mari mengarungi dunia kezuhudan Ali.
Penerbit; Penerbit Cahaya
Jl. Siaga Dharma VIII, no; 32 E
Pasar Minggu-Jakarta Selatan
Telp: 021-7987771 (08121068423) Bagian pemasaran; Bpk Iip
Fax: 021-7987633
Email; pentcahaya@centrin.net.id
posted on September 17, 2008 in Leave a comment »
Hari Suci
Bila tiada hari ini, mungkin kan tiada arti yang namanya shalat, puasa, haji, zakat, serta tulisan indah nan tajam terhadap agama samawi terlengkap ini.
Mereka berpanas diri berpayungkan lelangit biru
Mereka berharap sang mentari kan menjadi saksi, bahwa kulit mereka disapa sang mentari
Mereka tumpukan pada bumi, bila tapak kaki dan peluh mereka bersatu padanya
Mereka senandungkan angin, agar anginpun berkata kepada malaikat pencatat amal, bila mereka telah menyuarakan penentangan terhadap kezaliman
Kezaliman Amerika, Israel serta para pendukungnya mereka buktikan dihari nan mulia ini, dimana mereka dengan suara lantang, usahakan bangunkan setiap insan yang mendengar dan bernurani akan kezaliman zionis, "Amerika, Israel dan pendukung suksesnya program kezaliman."
Saat nan mulia ini dikenal dengan "Yaumul Quds(hari suci)"
Hari Jum`at terakhir dibulan Ramadhan
Pada tahun ini, jumat terakhir berada ditanggal 26 September
Namun bisa juga dilaksanakan pada tanggal 23 September, pas hari mulia pula, yakni dimalam harinya Lailatul Qadr terakhir, malam lailatul Qadr ke-3.
Bergandeng tangan dan bersatu padu hancurkan seluruh bentuk kezaliman dan ketidak adilan, siapapun dia, bagaimanapun dia, dimanapun dia, kapanpun adanya.
"Hancurkan kezaliman dan terkutuklah mereka."
Didepan kedutaan Amerika dan konco2nya, teriakkan kecaman dan kutukan terhadap Amerika dan Israel serta abdi mereka.
posted on September 12, 2008 in Leave a comment »
Gejolak Aisyah ra
Pemakaman Utsman sudah selesai dan segala sesuatu telah dibereskan
seperti seharusnya. Kaum Muhajirin dan Anshar berkumpul bersama, juga
umat islam lainnya, untuk membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah.
Orang pertama yang membaiat dan menjabat tangan Ali adalah Thalhah bin
Ubaidillah dan kemudian Zubair bin Awwam.
Al-Balazduri
meriwayatkan, "Tak seorangpun ahli Badar yang tidak berbaiat kepada
Ali. Secara serentak, mereka berkata, 'Menurut kami, andalah yang
paling berhak menjadi pemimpin.' Melihat itu, Ali segera menuju mmbar
dan berpidato. Orang yang menghampiri Ali dimimbar dan membaiatnya
adalah Thalhah, yang kemudian diikuti oleh beberapa orang lainnya. Ali
merasa senang. 'Saya pikir, mereka takkan melanggar baiat.' gumam Ali."
Al-Thabari
meriwayatkan, "Habib bin Dzuaib melihat Thalhah saat melakukan baiat.
Habibi berujar, 'Tangan pertama yang terulur untuk berbaiat adalah
tangan yang berdaging. Suksesi ini masih belum selesai.'" gumamnya.
Kaum
muslimin sepakat mengangkat Ali sebagai khalifah, sementara Ali tidak
mungkin menolak. Dalam salah satu khutbah yang berusaha menggambarkan
situasi itu, Ali berkata, "Saya tidak mungkin berani maju memangku
khalifah kalau tidak karena massa yang datang dari segala penjuru untuk
mendukung saya. Hati sayapun luluh, mereka berkerumun didekat saya
seperti kawanan kambing. Tetapi ketika saya menyatakan menerima
khilafah, sebuah kelompok menarik baiatnya kembali, yang kemudian
dikuti oleh kelompok lain, dan seterusnya."
Tangan yang berbaiat
kepada Ali memutuskan untuk berkhianat karena pemiliknya(Zubair)
mengira beroleh harta rampasan yang lebih banyak dengan dipegangnya
kursi kekhalifahan oleh Ali. Namun setelah Ali mengeluarkan pernyataan
bahwa dia bukanlah pemimpin yang lemah sehingga memerlukan bantuan
mereka berdua(Zubair dan Thalhah) dengan menjadi tangan kanannya,
mereka mulai merasa yakin bahwa kesempatan sudah sirna; Ali ingin
memegang kekhalifahan itu sendiri dan tak membutuhkan mereka berdua.
Timbullah pikiran untuk memberontak. Namun karena kota Madinah masih
berada dalam kekuasaan Ali, tempat sekarang mereka berada, niat itupun
urung dilakukan. Apalagi, pemerintahan Ali belum memiliki cacat yang
bisa dikritisi, dan belum menjadi celah untuk mengggulingkannya. Lebih
jauh, sejak awal mereka sudah terlibat dalam pembaiatan dan menyalami
tangan Ali.
Jika demikian halnya, pemberontakan tak mungkin
dilakukan dan dimulai dari kota Madinah. Akhirnya, kota Makkah
diangggap sebagai kota yang paling aman untuk menjalankan aksi, niat
pergi ke Makkah pun muncul. Bagi para pengacau bani Umayyah dan musuh
Ali, Makkah memang merupakan tempat perlindungan yang nyaman. Apalagi,
disana sudah ada Ummul Mukminin Aisyah ra, yang meninggalkan Madinah
sebelum Utsman terbunuh. Aisyah sendiri berinisiatif menjadi penengah
antara khalifah Utsman dan para pemberontak, kedatangannya di Makkah
memang terhitung terlambat. Dengan berkeras meningggalkan Madinah dan
mewajibkan diri untuk menuju Makkah, Aisyah berharap dapat terhindar
dari dosa pembunuhan terhadap Utsman.
Sementara itu, Thalhah dan
Zubair datang meminta izin kepada Ali untuk pergi berumrah. Hanya saja,
permintaan itu ditampik oleh Ali, "Umrah bagaimana yang kalian mau?
tidak... Kalian sebenarna tidak akan ber-umrah." Mereka langsung
bersumpah bahwa mereka hanya ingin ber-umrah. Ali tetap pada sikapnya,
"Sebenarnya, kalian tidak ingin ber-umrah, tetapi hendak berkhianat dan
menarik kembali baiat kalian." Keduanya kembali menyatakan sumpah,
"Tidak, wahai khalifah! Bukan itu yang kami mau. Kami sama sekali tidak
mencabut baiat kami. Kami betul2 tulus hanya untuk ber-umrah." Ali
mengalah, tetapi meminta, "Kalau begitu, tolong perbaharui lagi baiat
kalian." Merekapun mengucapkan janji setia untuk tetap memegang teguh
baiat yang telah mereka berikan. Setelah itu, mereka diizinkan pergi
oleh Ali. Keduanya pun pergi meninggalkan Madinah menuju Makkah.
Dalam
perjalanan, kepada setiap orang yang ditemui, mereka berujar, "Kami
tidak berbaiat untuk Ali, baiat kami untuknya hanya karena kami
terpaksa." Di Makkah, mereka kembali bergabung dan menyusun kekuatan
dari semua orang tidak setuju dengan pemerintahan Ali.
Demikianlah,
semua musuh Ali telah berkumpul dan menyusun kekuatan dinegeri yang
baik ini(Makkah). Meski berada didekat rumah Allah, mereka mengobarkan
semangat permusuhan terhadap wali Allah. Sungguh mengerikan takdir yang
tersembunyi dibalik hari2. Mereka menyusun kekuatan ditanah suci Allah
untuk mengadakan sebuah peperangan yang mengakibatkan terbunuhnya para
sahabat, orang2 yang mengalami langsung dakwah kenabian dan terbitnya
fajar Islam. Tetapi karena didorong hawa nafsu dan iri hati, keinginan
untuk melawan kebenaran yang menyatu dalam diri ali dan para
pengikutnya tetap mereka laksanakan.
Sebetulnya, terdapat 3 orang
yang paling bertanggung jawab atas berkecamuknya perang Jamal. 2
diantara ke-3 orang itu adalah laki2(Thalhah dan Zubair), dan seorang
lagi adalah Aisyah ra. Ke-3 orang inilah yang bertanggung jawab atas
darah ribuan orang yang tumpah pada pertempuran itu. Merekalah ang
mesti mempertanggung jawabkan; Ummul Mukminin sendiri sebetulna cukup
berperan besar dibanding ke-2 rekannya yang lain, karena dialah yang
membawa2 pakaian Utsman untuk dijadikan sebaai bukti kezaliman dan
perlakuan tidak adil ang telah diterima Utsman. Sebetulnya, Aisah juga
pernah melakukan hal yang sama terhadap Utsman sendiri.
Ibn al-Atsir
menuturkan, "Saat pengepungan Utsman terjadi, Aisyah telah berada di
Makkah. Ketika akan kembali ke Madinah, ditengah jalan, di Saraf, dia
dicegat oleh pamannya yang berasal dari suku Laits, Ubaid bin Abi
Salamah, yang merupakan putra Ummu Kilab. 'Ada apa?' tanya Aisyah
kepada pamannya itu. Pertanyaan Aisyah dijawab oleh sang paman, 'Utsman
telah dibunuh' Kini tinggal 8 orang saja yang mengurus Madinah.'
'Lantas apa yang dilakukan ke-8 orang itu?' desak Aisyah. 'Mereka
sepakat untuk membaiat Ali,' ujar sang paman. Aisyah bergumam, 'Andai
saja kekhalifahan itu diberikan setelah urusan Utsman selesai! Bawa aku
kembali secepatnya!' kata Aisyah kepada orang2 yang bersamanya. Akan
tetapi, sipaman bertanya heran, 'Mengapa? Mengapa harus kembali ke
Madinah? Mengapa demikian? Engkaulah yang menjadi harapan kami. Engkau
pernah berkata, 'Bunuhlah Na'tsal, karena dia sudah kafir.'"
Ummul
Mukminin juga merupakan orang prtama yang memberontak terhadap Utsman,
karena jatah yang pernah dia terima dari Umar telah dikurangi oleh
Utsman. Aisyah dibri keistimewaan tersendiri oleh Umar, dibanding
dengan istri2 lain Nabi saw dan mendapatkan jatah lebih banyak. Tradisi
untuk menyusun peringkat pembagian harta rampasan, yang memang
menyalahi aturan Nabi saw, pertama kali dicetuskan oleh Umar. Umar
melakukan pembedaan2 antara Muajirin dan Anshar, antara orang Qurays
dan suku lain. Tradisi ini merupakan sebentuk penyimpangan pertama dari
risalah dan tuntunan yang dibawa Nabi saw."
Al-Ya`qubi dalam
buku sejarahnya menyatakan, "Pemeringkatan jatah itu diawali Umar
dengan Abbas bin Abdul Muththalib yang beroleh jatah 3000 dirham, semua
kaum Qurays yang ikut perang Badar mendapatkan 3000 dirham, semua orang
Anshar yang ikut perang Badar 4000 dirham, semua penduduk Makkah dan
menjadi pembesar Qurays, seperti Abu Sufyan bin Harb dan Muawiyah bin
Abi Sufyan mendapat 5000 dirham. Kemudian, kaum Qurays dengan
tingkatan2nya kebawah(yang tidak berangkat ke Badar), untuk istri Nabi
saw secara umum sebanyak 6000 dirham, untuk Aisyah, Ummu Habibah, dan
Hafsah 12000 dirham, untuk Shafiyah dan Juwairiyyah 5000 dirham, untuk
orang Makkah yang tidak ikut berhijrah 600 sampai 700 dirham, orang
Yaman 400 dirham, orang Mudhar 300 dirham, dan untuk Rabi'ah 200
dirham."
Ummul mukminin Aisyah dan Hafsah lebih diutamakan oleh
Umar. Namun ketika Utsman naik menjadi khalifah, ini tidak dibiarkan
begitu saja tanpa perubahan, jatah Aisyah dikurangi. Itulah sebabnya
Aisyah memilih menjadi oposan dan menyatakan pemberontakannya terhadap
Utsman. Kini ia sedang bersiap2 pula untuk menghadapi Ali, meski
dilihatnya Ali berada dipihak yang benar. Sebab, memang banyak orang
yang takut terhadap keadilan, dan karena itu pulalah Aisyah, Thalhah,
dan Zubair menyatakan pemberontakan mereka terhadap Ali, Imam al-Huda.
Bersama
2 sekongkolnya, Ummul Mukminin bergerak meninggalkan Makkah menuju
Basrah. Kota Basrah hendak mereka jadikan sebagai basis pertahanan.
Dari Basrah, mereka dapat menyerang Ali. Ditengah perjalanan,
sebetulnya terdapat kejadian2 yang membuat Ummul Mukminin merasa
mengetahui siapa sesungguhnya berada dipihak yang benar, Aisyah merasa
bahwa kebenaran berada dipihak Ali dan para pengikutnya. Hal itu dia
ketahui berdasarkan ucapan yang sangat gamblang dari Nabi saw.
Gonggongan2
anjing telah menghadangnya ditengah jalan, namun dia tetap enggan untuk
kembali pulang. Ummu Salamah mengirimkan sepucuk surat kepada Aisyah,
yang isinya antara lain: "Apakah yang akan engkau katakan dihadapan
Rasulullah, sekiranya beliau menghalangimu dengan mata pedang karena
engkau beralih dari satu penentangan ke penentangan yang lain? Tempat
kembalimu sudah dijanjikan Allah, tetapi mengapa engkau masih menentang
Rasulullah? Sekiranya aku yang diminta Allah untuk masuk kesurga
Firdaus, aku pasti malu bertemu Rasulullah karena telah melanggar hijab
yang dipakaikan Allah kepadaku."
Ummul Mukminin Aisyah sudah memilih
untuk menjadi salah seorang kepala pemberontak melawan Ali, apapun yang
terjadi, dia tidak akan mundur. Oleh karena itu, dia tetap berangkat
bersama tentaranya hingga mencapai Basrah. Mereka memilih tempat yang
disebut al-Rabad. Disana, Zubair, Thalhah, dan Ummul Mukminin masing2
berpidato.
Pemberontakan Aisyah ini menimbulkan kecemburuan ditengah
sebagian umat Islam yang merasa tidak sampai hati melihatnya terjun
langsung memimpin peperangan. Oleh karena itu, banyak orang yang
bersimpati ikut membela beliau. Bukan karena percaya bahwa yang
dibelanya adalah kebenaran, tetapi lebih karena Aisyah sebagai istri
Nabi saw dan Ummul Mukminin sangat pantas untuk dibela. Banyak diantara
pasukannya ikut berperang, agar keselamatan Aisyah tetap terjaga.
Mereka semua merasa resah atas pemberontakan yang dipimpin langsung
oleh Aisyah, padahal Allah telah memrintahkan kepada Aisyah untuk tetap
tinggal dalam rumah. Jariyah bin Qudamah al-Sa`di berujar kepada
Aisyah, "Wahai Ummul Mukminin, demi Allah, terbunhnya Utsman lebih
ringan bagi kami dibandingkan keluarnya engkau saat ini, diatas unta
yang terkutuk ini, hingga keselamatan dirimu sendiri menjadi terancam!
Allah sudah memberikan hijab untukmu, tetapi engkau sendiri yang
melanggarnya, Sungguh, kelompok yang berpendapat membolehkan berperang
melawanmu berarti juga menghalalkan darahmu."
Disaat memasuki kota
Basrah, Abu al-Aswad juga berkata kepada Aisyah, "Sesungguhnya anda ini
tidak perlu kami jaga dengan tongkat, pedang, dan senjata kami. Anda
sendiri merupakan orang yang tidak dibolehkan keluar oleh Rasulullah.
Anda diperintahkan untuk tetap berada dirumah, tetapi sekarang anda
membuat orang saling membunuh."
Mereka telah memasuki Basrah.
Setelah berlangsung pembicaraan serius dan saling bertukar pendapat,
Aisyah dan Utsman bin Hunaif yang menjadi utusan Ali kepada Aisyah
mencapai kata sepakat bahwa Utsman boleh tinggal agar bisa menulis
surat kepada Ali.
Tak sampai 2 hari setelah kesepakatan itu,
Thalhah, Zubair, dan Marwan bin Hakam langsung menusuk Utsman. Dimalam
yang gelap dan gerimis, Utsman yang waktu itu sedang tertidur pulas
siap untuk mereka habisi. Agar mencapai kepada Utsman, mereka harus
membunuh 40 orang penjaga. Hanya saja kemudian, Aisyah membebaskan
Utsman dan cukup mencabuti jenggot, alis dan bulu matanya.
Ketika
Ali telah mengetahui berita mengenai keberangkatan pasukan Aisyah ke
Basrah, langsung bergerak meninggalkan Madinah. Maksud Ali adalah
menghadang mereka ditengah jalan. Dalam pasukannya Ali ditemani oleh
rombongan sahabat dari kaum Muajirin dan Anshar. Namun, pasukan Aisyah
bergerak lebih cepat dan sampai lebih dulu di Basrah. Ali mengumpulkan
informasi intelijen terdulu ketika berada antara Rabadzah, dekat
Kuffah. Sebelum akhirnya memutuskan untuk terus ke Basrah.
Di Basrahlah pertempuran sengit Ix antara kaum muslimin pecah. Ia
merupakan awal dari serentetan beacana yang menyusul dibelakangnya,
setelah umat Islam dipersatukan oleh Nabi saw. 2 pasukan kini
berhadap2an, menunggu saat mendebarkan ketika genderang perang ditabuh.
Ali
maju dan berpidato, memberikan apresiasi dan menebar ancaman dihadapan
pasukan itu seraya menyebut2 nama Allah. Namun, jiwa yang sudah kering
tidak mau lagi tunduk kepada kebenaran. Kemudian, dengan menggunakan
keledai Rasulullah saw, Ali menghampiri pasukan Aisyah. Ali berteriak
lantang, "Dimana Zubair?" Lalu, Zubair pun muncul memanggul senjata.
"Oh, betapa beraninya anak itu," komentar Aisyah terhadap Zubair.
Ketika diberi tahu bahwa Ali tidak memanggul senjata, Aisyah merasa
senang. Kedua laki2 itu saling mendekat dan ke-2 kuda mereka bertemu
sembari menyenggol2kan leher.
Ali berkata kepada Zubair, "Ingatkah
engkau ketika suatu hari aku bersama Rasulullah berpapasan dengan Bani
Ghanam? Nabi memandangku dan beliau tertawa, aku pun ikut tertawa waktu
itu. Engkau lalu berujar kepada Rasulullah, 'Ibn Abi Thalib masih saja
menyimpan kesombongannya.' Tetapi Rasulullah menampik dan menjawab
ucapanmu itu, 'Ali tidak demikian, suatu hari nanti, engkau pasti akan
memeranginya, dan engkau berada dipihak yang zalim.'"
Zubair
menjawab, "Ya, betul! Sekiranya aku mengingat peristiwa itu, tentu
semua ini takkan kulakukan. Demi Allah, aku takkan memerangimu lagi."
Ketika itulah Zubair langsung berbalik kepada Ummul Mukminin dengan
wajah yang sama sekali berbeda. Katanya setelah sampai didekat Aisyah,
"Tak 1pun situasi yang tidak kuketahui bagaimana seharusnya aku harus
bersikap, sejak aku baligh, kecuali kali ini."
"Lalu, engkau hendak kemana? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Aisyah kepada Zubair.
"Saya hanya ingin pergi dan meninggalkan mereka," jawab Zubair.
Zubair
memang sudah menarik diri dari peperangan ini, namun pasukannya belum
juga sadar. Mereka tetap melanjutkan niat, apapun yang terjadi dan
bagaimanapun resikonya, bahkan sekalipun nanti berujung dineraka.
Ke-2
pasukan kini sedang berhadap2an. Perangpun lalu berkecamuk sudah.
Namun, bagaimanakah peran Ali dalam peperangan ini? Ali bertindak
sebagai pengatur strategi, sekaligus pejuang. Disini ketangkasan Ali di
Badar, Uhud, dan Ahzab terlihat kembali, dan itulah yang akan kami
ringkas. Seperampat abad lamanya pedang Ali(Zulfiqar) berhenti
berkelebat, namun hal itu bukan karena sudah lelah, tetapi hanya karena
situasi sulit yang sedang beliau hadapi.
Ibn Abi al-Hadid
mengungkapkan, "Ali menyerahkan bendera perang kepada anaknya, 'Bawa
bendera ini, Nak! Majulah sampai bendera ini terlihat oleh pasukan
Jamal. Jangan biarkan ia terkulai jatuh.' Muhammad, sianak, pun maju.
Beberapa anak panah datang menyergapnya. Ali berkata kepada anak
buahnya, 'Tunggu sampai panah mereka habis! Hingga anak panah mereka
tinggal 1 atau 2!' Ali kemudian memerintahkan anaknya untuk maju.
Ketika dilihatnya sianak agak ragu2, Ali lalu menyorongnya dari
belakang dan meletakkan tangan kirinya diatas bahu kanan anaknya. 'Ayo
maju, Nak!' seru Ali, 'Ayah bersumpah!' Muhammad sang anak, selalu
menangis bilaman mengingat peristiwa itu. Di melukiskan, 'Seolah2 saya
merasakan nafas ayah yang hangat ditengkuk. Demi Allah, saya tidak
pernah melupakan itu.'"
Namun kemudian Ali merasa iba kepada
anaknya. Dia mengambil bendera itu dengan tangan kirinya, sementara
pedang Zulfiqarberada digenggaman tangan kanannya. Bendera itu
dibawanya menerobos pasukan Jamal, kemudian dia kembali dan pedang
itupun telah bengkok.Pedang itu diluruskan dengan lututnya. Anak
buahnya, anak2nya, Malik al-Asytar dan Amar bin Yasir berkata kepada
Ali, "Cukuplah kami saja yang berperang, wahai Amirul Mukminin! Anda
tidak usah terjun!"
Permintaan itu tidak dijawab dengan kata2,
beliau hanya memandang mereka dengan ekor mata. Beliau justru mengaum
seperti singa, menyerbu, dan meninggalkan orang2 disekitarnya jauh
dibelakang. Ali betul2 ingin menghancurkan pasukan Basrah, tanpa
melihat lagi siapa yang ada disekelilingnya, tanpa mau bercakap2
sedikitpun. Bendera yang tadi dibawanya, beliau serahkan kembali kepada
anaknya, Muhammad. Setelah itu, diterobosnya kembali barisan pasukan
musuh, menebas mereka 1/1, dan orang2 didekatnyapun berlarian karena
takut. Beliau meliuk kekiri dan kekanan, sehingga tanah disekitarnyapun
dibasahi darah para korban. Pedang beliau kembali bengkok, yang
kemudian diluruskan dengan kakinya. Melihat itu, pasukannya merasa
semakin kuat. Mereka menyemangatinya dengan menyebut nama Allah dan
menyebut2 Islam sembari mengatakan, "Seandainya anda yang terluka, maka
agama ini akan hilang(dengan kepergian anda). Berhentilah, cukuplah
kami saja yang berperang." Tetapi beliau menjawab, "Demi Allah, semua
ini tiada lain kecuali untuk Allah dan akhirat."
Kepada anaknya, Mahammad, beliau berpesan, "Seperti ini engkau nanti, wahai Ibn Hanafiyah."
"Siapa yang bisa menandingi anda, wahai Amir Mukminin?" komentar ana buahnya yang lain.
Ketangkasan
Ali memang luar biasa, peristiwa ini hanyalah salah 1 saja. Dalam
peperangan ini, dia bertarung melawan Abdullah bin Khalaf al-Khuza'i,
seorang pemimpin Basrah, yang paling kaya dan paling banyak hartanya.
Abdullah sesumbar meminta lawan duelnya, untuk itu dia tidak sudi kalau
bukan Ali. Maka, Ali pun maju, dan tak lama kemudian abdullah
tersungkur ketanah dengan kepala tertebas. Begitulah, 1 demi 1 lawan
tarung Ali jatuh berguguran.
Perang semakin berkecamuk diantara 2
kubu itu. Namun, tak lama kemudian, tanda2 kekalahan mulai terlihat
dipihak musuh. Thalhah dibunuh oleh Marwan bin Hakam.
Perang sudah
menelan ribuan korban, karena yang mereka lawan adalah Ali. Pedang Ali
memang sudah terkenal dimana2. Ali sendiri juga memiliki keberanian
yang sudah dimaklumi ketangguhannnya dan tak akan dilupakan sepanjang
masa. Dan unta terkutuk itupun tersungkur ketanah.
Ditengah
keramaian itu, ali memerintahkan seseorang untuk berteriak lantang
kepada pasukannya, "Dengarsemua! Jangan kejar orang yang lari! Jangan
sentuh orang yang terluka! Jangan menyerbu sampai kedalam rumah."
"Coba lihat, apakah Aisyah terluka?" perintah Ali kepada Muhammad bin Abu Bakar.
Muhammad lalu melongok kedalam tandu Aisyah.
"Siapa engkau?" tanya Aisyah.
"Keluargamu yang paling kau benci," jawab Muhammad.
"Ibn Khats'amiyah?" tanya Aisyah.
Dia menjawab, "Ya."
Perang
Jamal ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi Aisyah. Bagaimana
mungkin dia dapat melakukan semua pembantaian ini? Bagaimana mungkin
semua nyawa yang tidak berdosa ini harus tertebas demi keinginan dan
kepentingan2nya yang fanatis? Bagaimana jka seandainya dia tetap
memelihara hijabnya dan tidak berperang melawan Imam kebenaran dan
petunjuk(Ali)? Bagaimana berbedanya posisi yang dulu ditempatina dengan
sekarang? Kepada orang yang mengingatkannya akan peperangan ini, Aisyah
bercerita bahwa dia berandai bisa meninggal 20 tahun lebh awal.
Dimanapun
Ali bertempur, kebenaran selalu berada dipihaknya. Perang Jamal hanya 1
dari sekian banyak peperangan yang diikuti Ali, demi membela kebenaran
dengan maknanya yang paling jelas. Baiat dilakukan atas kesepakatan
bersama antara Muhajirin dan Anshar, dan semua kaum muslimin yang
termasuk ahl al-hall wa al-'Aqd. Kemudian, sebagian kelompok mencagut
baiat yang telah diberikannya kepada Ali. Maka, Ali berhak menuntaskan
persoalan ini, semua sikap yang diambil Ali memiliki alasan yang betul2
jelas. Terang malamnya sama seperti siang. Ali berperang dan tahu
kemana harus menebaskan pedangnya, karena pedang Ali hanya menebas
orang yang berhak pergi keneraka. Pedang itu tidak akan pernah salah
tebas. Ali sendiri melukiskan, "Semenjak Ix melihat kebenaran, tak
pernah terpikirkan olehku untuk ragu2 berjuang demi membelanya." Beliau
juga berkata, "Saya punya bukti dihadapan Tuhan dan punya manhaj dari
Nabi. Saya berada dijalan yang benar dan saya akan mengikutinya,
langkah demi langkah."
"Wahai Amir Mukminin, fitnah terbesar apalagi setelah ini? Sesungguhnya
ahli Badar sudah saling bunuh," tana seseorang usai perang Jamal kepada
beliau.
Ali berkata kepadanya, "Celakalah engkau! Apakah fitnah akan terjadi,
sedangkan aku masih menjadi pemimpin dan komandan umat? Demi zat Yang
mengutus Muhammad dengan kebenaran dan memuliakan wajahnya, aku tidak
pernah berbohong! Aku juga tidak pernah mendustakan beliau. Aku bukan
orang sesat dan tidak pula menyesatkan orang lain. Aku tidak
tergelincir dan juga tidak menggelincirkan orang lain. Aku berada
dijalan kebenaran Tuhan yang begitu nyata, yang telah dijelaskan Allah
kepada Rasul, dan dijelaskan Rasul kepadaku. Dihari kiamat, aku akan
mengaku bahwa aku tidak punya dosa, dan sekiranya aku punya dosa, maka
dosaku pasti akan diampuni karena memerangi mereka."
Ali, engkau hanya berjalan direl kebenaran. Telah tercantum dalam dunia
ghaib bahwa Rasulullah berbicara tentangmu dan melukiskan bagaimana
engkau berjalan dijalur yang benar. Beliau berkata, "Ali berada dipihak
yang benar dan kebenaran pasti berada dipihak Ali."
Ali bin Abi Thalib, hal 90 - 106 (337 halaman),harga toko: 30.000,-, karya: Abbas Ali al-Musawi
Penerbit; Penerbit Cahaya
Jl. Siaga Dharma VIII, no; 32 E
Pasar Minggu-Jakarta Selatan
Telp: 021-7987771 (08121068423) Bagian pemasaran; Bpk Iip
Fax: 021-7987633
Email; pentcahaya@centrin.net.id
posted on September 10, 2008 in Leave a comment »
-
bangkiti
- 33 Male

- Single
- Friends: 384
- Last login: 2 days ago
HOME