Pasang iklan kamu disini!

Yaumul Quds

Bulan nan suci ini kembali menghadirkan satu hari yang sangat dirindukan oleh setiap jiwa yang mencintai kedamaian, kesucian, dan kelembutan jiwa serta penentang setiap bentuk kezaliman.
Didepan kedutaan Amerika Serikat dan Gedung PBB....kami akan teriakkan....
Terkutuk Amerika.....terkutuk Israel....
Hancurkan Amerika .....hancurkan Israel....
Amerika setan besar.....Israel setan besar.....
Amerika pengecut.....Israel pengecut.....
Ganyang Amerika.....ganyang Israel....
Amerika kerdil.....Israel kerdil....
Dibawah terik matahari  dan aspal yang panas serta tercekik kehausan....akan digemakan kebobrokan Amerika dan Israel serta kroni2nya.....
Pada hari Jum`at, tanggal 26 September.....minggu terakhir di bulan suci Ramadhan.....
Bagi setiap insan yang merasa pecinta dan pendamba kedamaian dan pendukung keadilan.....
Bergabunglah....bersama penyeru keadilan dan kedamaian ...walau hanya sekedar mengeringkan ludah rongga mulut...kerongkongan....
Acara Yaumul Quds akan digelar dan diadakan diberbagai kota.....
Bandung....
Jakarta......
Solo......
Semarang.....
Aceh......
Surabaya......
Dan berbagai kota lainnya...dimana suara jeritan orang terzalimi disuarakan.....
Jum`at,  26 September , Yaumul Quds (Hari Suci)
Itulah hari yang teriakan al-Imam Ruhullah al-Musawi Ali Khomeini.
Adakah insan yang telah berkoar tentang keadilan dan kebenaran berani mengecam dan menolak Amerika dan kroninya....?
Mengecam saja tidak berani....apalagi bila mereka harus melawan Amerika dan Israel serta kroni2nya....?
Adakah yang kan simpati dihari suci ini untuk menegakkan kembali Islamuddin...?
Marilah tunjukkan kepada musuh Allah itu...bahwa kita pecinta keadilan dan kedamaian masih hidup dan masih memiliki kekuatan untuk memusnahkan mereka dari muka bumi yang indah ini.....
Lewat suara nan lemah ini.... semoga kan diwujudkan oleh-Nya kekuatan nan tiada tanding dan banding......tuk melawan ketidak adilan dan kezaliman.....

posted on September 24, 2008 in Hari Suci Leave a comment »

Shalat Jodoh

Imam Ja`far Shadiq pernah bertanya kepada Abu Bashir, "Bila seseorang ingin menikah, apa yang sebaiknya dia lakukan?" Abu Bashir menjawab, "Aku tidak tahu," Imam berkata, "Jika dia ingin menikah, hendaklah ia shalat 2 rakaat dan bertahmid(alhamdulillahi rabbil `alamin) kepada Allah. Setelah itu  membaca do`a:
Allahumma inni uridu an atazawwaja faqaddir li minannisa-i a`affahunna farjaw wa ahfadza hunna nafsiha wa fi mali wa awsa`ahunna rizqaw wa a`zhamahunna barakataw wa qaddirli waladan thayyiban shalihan fi hayati wa ba`da mamati.
"Ya Allah, sungguh aku ingin menikah. Takdirkanlah untukku perempuan yang paling baik dalam menjaga kesuciannya, paling baik dalam menjaga dirinya terhadapku dan terhadap hartaku, paling luas rezekinya, dan paling besar keberkahannya, takdirkanlah untukku seorang anak yang baik hingga Engkau jadikan dia keturunan saleh semasa hidupku dan sesudah matiku."
Kamus Shalat, Karya; DR. Muhsin Labib
Hal 165(347 halaman), harga toko; Rp 79.000,-
Penerbit; Arifa Publishing
Jln Batu I no 5B
Pasar Minggu - Jakarta, 12510
Telp. (021)7900011, fax. (021)79199069
Email; arifa@Lutfiagency.com
WEb; www.lutfiagency.com

posted on September 21, 2008 in Jodoh Leave a comment »

Kezuhudan Ali

Dengan sikap dan perilakunya, Ali sudah meletakkan dasar2 yang paling agung, yang didukung oleh kebesaran pemikiran dan ketinggiannya, dalam dunia kezuhudan dan kesederhanaan. Seperti itulah zuhud ang islami, bukan zuhud sufi yang mengisolasi diri dan jorok, dimana terdapat penyimpangan dari kebenaran dan petunjuk oleh para pelakunya. Mereka berkhayal tentang berbagai hal yang tidak berkaitan sedikitpun Allah dan Rasul-Nya. Misalnya, orang yang mengaku bahwa Tuhan berada dalam gamisnya, atau bahwa Allah sudah menitis kedalam dirinya dan berbagai pengakuan2 sesat lainnya, yang menunjukkan bodoh dan sesatnya sang pelaku dan kurangnya ketaatan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya. Mereka malah menjadi beban, pajak yang memberatkan dan bibit2 kejahatan bagi masyarakat.
Ali sudah memberikan bagaimana zuhud yang mulia dalam Islam, yang telah dianjurkan oleh syariat secara khusus terhadap orang yang memiliki posisi penting. Ali sebetulnya merupakan orang yang mampu dan bisa meraih apa yang dia mau, yang enak untuk dinikmati dan indah untuk dipandangi.
Kezuhudan seorang Ali merupakan ruang yang lebar dan pintu utama yang bisa dimasuki oleh seorang anak manusia, tanpa melakukan penyimpangan akkidah, pemikiran ataupun tingkah laku. Zuhud Ali merupakan ajakan untuk tidak terlalu berlebihan memupuk kenikmatan dengan hanya mengambil sebagiannya. Sebuah ajakan untuk sederhana dalam berpakaian, demi tercapainya tujuan yang lebih mulia. Yakni tujuan yang lebih agung dan lebih tinggi daripada makanan, minuman dan pakaian. Sebuah tujuan demi menjadi pribadi yang terbuka memnadang orang lain, terutama mereka yang tidak berhata. Bila tidak, tentu orang2 melarat itu ingin mencicipi kenikmatan itu dan bati mereka akan bertambah pilu, sehingga dia merasa nasibnya begitu malang dan menjadi merasa sangat menderita. Oleh sebab itu, dia harus bersikap santun kepada mereka sebisa mungkin, sesuai situasi yang ada.
Zuhud Islami merupakan kunci kebaikan yang akan membentuk pribadi peka terhadap penderitaan/kebutuhan orang lain, sehingga timbul rasa untuk lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri, dia rela lapar asal saudaranya kenyang, bersusah-payah demi membantu hidup layak.
Perilaku zuhud berarti meninggalkan debu2 duniawi demi mendapatkan akhirat. Orang zuhud memiliki apapun tanpa dimiliki oleh 1pun. Orang yang memiliki sebagian dari debu dunia, kemudian tidak membuatnya menjadi dermawan terhadap para fakir miskin, sama seperti orang yang tidak punya apa2. Dia justru menjadi milik dari hartanya sendiri, sehingga dirinya tidak sanggup memberikannya kepada orang lain secuilpun, tidak bisa mengeluarkan 1 dirham uangpun dari sakunya kecuali jika dia sudah mati alias sekarat. Orang seperti ini tidak berhak hidup karena dia adalah hamba yang dikuasai uangnya sendiri dan debu duniawi.
Ali sudah membangun dasar2 zuhud dan penerapannya. Mungkin, pemikiran paling cemerlang yang dapat kita tangkap dari kepribadian yang diinginkan Ali pada Nahj al-Balaghah yaitu pidato2 yang beliau ucapkandiatas mimbar, didepan generasi pada masanya. Dengarkan kata2nya, sambil merenungkan pembicaraannya, dan nikmatilah nuansanya untuk beberapa saat saja, lalu pikirkan kata2 yang diucapkan agar anda tahu betapa tinggi dan besarnya orang ini.
Khutbah Ali mencerminkan sebuah semangat yang hidup dalam dirinya, secara pemikiran dan keyakinan. Hal itu terefleksikan kedalam tindak-tanduk sehari2, sehingga tidak sedikitpun jarak antara pemikiran dan perilaku, antara jargon dan praktek, antara ucapan dan perbuatan. Ia merupakan sebuah ke1an yang padu, antara zat dan sifat. Mari mengarungi dunia kezuhudan Ali.
"Ketahuilah, semua pengikut pasti memiliki imam yang diikutinya dan dijadikan suluh pelita... Ketahuilah, imam kalian sudah merasa cukup dengan 2 baju dari dunianya, dan 2 roti kering dan keras dari makanannya. Ketahuilah, kalian tidak akan sanggup melakukan itu, cukup bantu aku dengan bersikap wara`, berijtihad, menjaga kesucian diri dan tetap lurus. Demi Allah, aku tidak menyimpan dunia sedikitpun, dan tidak menyembunyikan harta rampasannya, tidak mempersiapkan ganti dari pakaian ganti dari pakaianku yang telah usang kain yang lain, dan tidak mengambil sejengkalpun tanahnya."
Ali bin Abi Thalib, hal 315 - 319 (337 halaman),harga toko: 30.000,-, karya: Abbas Ali al-Musawi
Penerbit; Penerbit Cahaya
Jl. Siaga Dharma VIII, no; 32 E
Pasar Minggu-Jakarta Selatan
Telp: 021-7987771 (08121068423)
Bagian pemasaran; Bpk Iip
Fax: 021-7987633
Email; pentcahaya@centrin.net.id

posted on September 17, 2008 in zuhud Leave a comment »

Hari Suci

Sebentar lagi akan terhampar satu hari dibulan Ramadhan yang penuh berkah dan merupakan anugerah tertinggi bagi insan yang menyadari hadirnya dan wujudnya hari itu, bahagialah bagi insan yang diseru oleh sang hari dan dirinyapun merengkuh penuh kerinduan terhadap tampaknya hari itu.....
Bila tiada hari ini, mungkin kan tiada arti yang namanya shalat, puasa, haji, zakat, serta tulisan indah nan tajam terhadap agama samawi terlengkap ini.
Hari ini adalah hari dimana, penjunjung keadilan....., pecinta kedamaian....., perengkuh kesucian....., pendamba kesempurnaan ......mereka bersatu padu dengan untaian kata.......
"Hancurkan kezaliman dan terkutuklah."
Hari ini, ketika setiap jiwa tauhidi tidak merasakan setetespun air
Mereka berpanas diri berpayungkan lelangit biru
Mereka berharap sang mentari kan menjadi saksi, bahwa kulit mereka disapa sang mentari
Mereka tumpukan pada bumi, bila tapak kaki dan peluh mereka bersatu padanya
Mereka senandungkan angin, agar anginpun berkata kepada malaikat pencatat amal, bila mereka telah menyuarakan penentangan terhadap kezaliman
Kezaliman Amerika, Israel serta para pendukungnya mereka buktikan dihari nan mulia ini, dimana mereka dengan suara lantang, usahakan bangunkan setiap insan yang mendengar dan bernurani akan kezaliman zionis, "Amerika, Israel dan pendukung suksesnya program kezaliman."
Saat nan mulia ini dikenal dengan "Yaumul Quds(hari suci)"
Hari Jum`at terakhir dibulan Ramadhan
Pada tahun ini, jumat terakhir berada ditanggal 26 September
Namun bisa juga dilaksanakan pada tanggal 23 September, pas hari mulia pula, yakni dimalam harinya Lailatul Qadr terakhir, malam lailatul Qadr ke-3.
Bergandeng tangan dan bersatu padu hancurkan seluruh bentuk kezaliman dan ketidak adilan, siapapun dia, bagaimanapun dia, dimanapun dia, kapanpun adanya.
"Hancurkan kezaliman dan terkutuklah mereka."
Didepan kedutaan Amerika dan konco2nya, teriakkan kecaman dan kutukan terhadap Amerika dan Israel serta abdi mereka.
"Terkutuk Amerika....terkutuk Israel...hancurkan Amerika....hancurkan Israel......"
Yaumul Quds, saat yang tepat untuk buktikan keperkasaan dan kebesaran Islam.

posted on September 12, 2008 in hari Leave a comment »

Gejolak Aisyah ra

Pemakaman Utsman sudah selesai dan segala sesuatu telah dibereskan seperti seharusnya. Kaum Muhajirin dan Anshar berkumpul bersama, juga umat islam lainnya, untuk membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Orang pertama yang membaiat dan menjabat tangan Ali adalah Thalhah bin Ubaidillah dan kemudian Zubair bin Awwam.
Al-Balazduri meriwayatkan, "Tak seorangpun ahli Badar yang tidak berbaiat kepada Ali. Secara serentak, mereka berkata, 'Menurut kami, andalah yang paling berhak menjadi pemimpin.' Melihat itu, Ali segera menuju mmbar dan berpidato. Orang yang menghampiri Ali dimimbar dan membaiatnya adalah Thalhah, yang kemudian diikuti oleh beberapa orang lainnya. Ali merasa senang. 'Saya pikir, mereka takkan melanggar baiat.' gumam Ali."
Al-Thabari meriwayatkan, "Habib bin Dzuaib melihat Thalhah saat melakukan baiat. Habibi berujar, 'Tangan pertama yang terulur untuk berbaiat adalah tangan yang berdaging. Suksesi ini masih belum selesai.'" gumamnya.
Kaum muslimin sepakat mengangkat Ali sebagai khalifah, sementara Ali tidak mungkin menolak. Dalam salah satu khutbah yang berusaha menggambarkan situasi itu, Ali berkata, "Saya tidak mungkin berani maju memangku khalifah kalau tidak karena massa yang datang dari segala penjuru untuk mendukung saya. Hati sayapun luluh, mereka berkerumun didekat saya seperti kawanan kambing. Tetapi ketika saya menyatakan menerima khilafah, sebuah kelompok menarik baiatnya kembali, yang kemudian dikuti oleh kelompok lain, dan seterusnya."
Tangan yang berbaiat kepada Ali memutuskan untuk berkhianat karena pemiliknya(Zubair) mengira beroleh harta rampasan yang lebih banyak dengan dipegangnya kursi kekhalifahan oleh Ali. Namun setelah Ali mengeluarkan pernyataan bahwa dia bukanlah pemimpin yang lemah sehingga memerlukan bantuan mereka berdua(Zubair dan Thalhah) dengan menjadi tangan kanannya, mereka mulai merasa yakin bahwa kesempatan sudah sirna; Ali ingin memegang kekhalifahan itu sendiri dan tak membutuhkan mereka berdua. Timbullah pikiran untuk memberontak. Namun karena kota Madinah masih berada dalam kekuasaan Ali, tempat sekarang mereka berada, niat itupun urung dilakukan. Apalagi, pemerintahan Ali belum memiliki cacat yang bisa dikritisi, dan belum menjadi celah untuk mengggulingkannya. Lebih jauh, sejak awal mereka sudah terlibat dalam pembaiatan dan menyalami tangan Ali.
Jika demikian halnya, pemberontakan tak mungkin dilakukan dan dimulai dari kota Madinah. Akhirnya, kota Makkah diangggap sebagai kota yang paling aman untuk menjalankan aksi, niat pergi ke Makkah pun muncul. Bagi para pengacau bani Umayyah dan musuh Ali, Makkah memang merupakan tempat perlindungan yang nyaman. Apalagi, disana sudah ada Ummul Mukminin Aisyah ra, yang meninggalkan Madinah sebelum Utsman terbunuh. Aisyah sendiri berinisiatif menjadi penengah antara khalifah Utsman dan para pemberontak, kedatangannya di Makkah memang terhitung terlambat. Dengan berkeras meningggalkan Madinah dan mewajibkan diri untuk menuju Makkah, Aisyah berharap dapat terhindar dari dosa pembunuhan terhadap Utsman.
Sementara itu, Thalhah dan Zubair datang meminta izin kepada Ali untuk pergi berumrah. Hanya saja, permintaan itu ditampik oleh Ali, "Umrah bagaimana yang kalian mau? tidak... Kalian sebenarna tidak akan ber-umrah." Mereka langsung bersumpah bahwa mereka hanya ingin ber-umrah. Ali tetap pada sikapnya, "Sebenarnya, kalian tidak ingin ber-umrah, tetapi hendak berkhianat dan menarik kembali baiat kalian." Keduanya kembali menyatakan sumpah, "Tidak, wahai khalifah! Bukan itu yang kami mau. Kami sama sekali tidak mencabut baiat kami. Kami betul2 tulus hanya untuk ber-umrah." Ali mengalah, tetapi meminta, "Kalau begitu, tolong perbaharui lagi baiat kalian." Merekapun mengucapkan janji setia untuk tetap memegang teguh baiat yang telah mereka berikan. Setelah itu, mereka diizinkan pergi oleh Ali. Keduanya pun pergi meninggalkan Madinah menuju Makkah.
Dalam perjalanan, kepada setiap orang yang ditemui, mereka berujar, "Kami tidak berbaiat untuk Ali, baiat kami untuknya hanya karena kami terpaksa." Di Makkah, mereka kembali bergabung dan menyusun kekuatan dari semua orang tidak setuju dengan pemerintahan Ali.
Demikianlah, semua musuh Ali telah berkumpul dan menyusun kekuatan dinegeri yang baik ini(Makkah). Meski berada didekat rumah Allah, mereka mengobarkan semangat permusuhan terhadap wali Allah. Sungguh mengerikan takdir yang tersembunyi dibalik hari2. Mereka menyusun kekuatan ditanah suci Allah untuk mengadakan sebuah peperangan yang mengakibatkan terbunuhnya para sahabat, orang2 yang mengalami langsung dakwah kenabian dan terbitnya fajar Islam. Tetapi karena didorong hawa nafsu dan iri hati, keinginan untuk melawan kebenaran yang menyatu dalam diri ali dan para pengikutnya tetap mereka laksanakan.
Sebetulnya, terdapat 3 orang yang paling bertanggung jawab atas berkecamuknya perang Jamal. 2 diantara ke-3 orang itu adalah laki2(Thalhah dan Zubair), dan seorang lagi adalah Aisyah ra. Ke-3 orang inilah yang bertanggung jawab atas darah ribuan orang yang tumpah pada pertempuran itu. Merekalah ang mesti mempertanggung jawabkan; Ummul Mukminin sendiri sebetulna cukup berperan besar dibanding ke-2 rekannya yang lain, karena dialah yang membawa2 pakaian Utsman untuk dijadikan sebaai bukti kezaliman dan perlakuan tidak adil ang telah diterima Utsman. Sebetulnya, Aisah juga pernah melakukan hal yang sama terhadap Utsman sendiri.
Ibn al-Atsir menuturkan, "Saat pengepungan Utsman terjadi, Aisyah telah berada di Makkah. Ketika akan kembali ke Madinah, ditengah jalan, di Saraf, dia dicegat oleh pamannya yang berasal dari suku Laits, Ubaid bin Abi Salamah, yang merupakan putra Ummu Kilab. 'Ada apa?' tanya Aisyah kepada pamannya itu. Pertanyaan Aisyah dijawab oleh sang paman, 'Utsman telah dibunuh' Kini tinggal 8 orang saja yang mengurus Madinah.' 'Lantas apa yang dilakukan ke-8 orang itu?' desak Aisyah. 'Mereka sepakat untuk membaiat Ali,' ujar sang paman. Aisyah bergumam, 'Andai saja kekhalifahan itu diberikan setelah urusan Utsman selesai! Bawa aku kembali secepatnya!' kata Aisyah kepada orang2 yang bersamanya. Akan tetapi, sipaman bertanya heran, 'Mengapa? Mengapa harus kembali ke Madinah? Mengapa demikian? Engkaulah yang menjadi harapan kami. Engkau pernah berkata, 'Bunuhlah Na'tsal, karena dia sudah kafir.'"
Ummul Mukminin juga merupakan orang prtama yang memberontak terhadap Utsman, karena jatah yang pernah dia terima dari Umar telah dikurangi oleh Utsman. Aisyah dibri keistimewaan tersendiri oleh Umar, dibanding dengan istri2 lain Nabi saw dan mendapatkan jatah lebih banyak. Tradisi untuk menyusun peringkat pembagian harta rampasan, yang memang menyalahi aturan Nabi saw, pertama kali dicetuskan oleh Umar. Umar melakukan pembedaan2 antara Muajirin dan Anshar, antara orang Qurays dan suku lain. Tradisi ini merupakan sebentuk penyimpangan pertama dari risalah dan tuntunan yang dibawa Nabi saw."
Al-Ya`qubi dalam buku sejarahnya menyatakan, "Pemeringkatan jatah itu diawali Umar dengan Abbas bin Abdul Muththalib yang beroleh jatah 3000 dirham, semua kaum Qurays yang ikut perang Badar mendapatkan 3000 dirham, semua orang Anshar yang ikut perang Badar 4000 dirham, semua penduduk Makkah dan menjadi pembesar Qurays, seperti Abu Sufyan bin Harb dan Muawiyah bin Abi Sufyan mendapat 5000 dirham. Kemudian, kaum Qurays dengan tingkatan2nya kebawah(yang tidak berangkat ke Badar), untuk istri Nabi saw secara umum sebanyak 6000 dirham, untuk Aisyah, Ummu Habibah, dan Hafsah 12000 dirham, untuk Shafiyah dan Juwairiyyah 5000 dirham, untuk orang Makkah yang tidak ikut berhijrah 600 sampai 700 dirham, orang Yaman 400 dirham, orang Mudhar 300 dirham, dan untuk Rabi'ah 200 dirham."
Ummul mukminin Aisyah dan Hafsah lebih diutamakan oleh Umar. Namun ketika Utsman naik menjadi khalifah, ini tidak dibiarkan begitu saja tanpa perubahan, jatah Aisyah dikurangi. Itulah sebabnya Aisyah memilih menjadi oposan dan menyatakan pemberontakannya terhadap Utsman. Kini ia sedang bersiap2 pula untuk menghadapi Ali, meski dilihatnya Ali berada dipihak yang benar. Sebab, memang banyak orang yang takut terhadap keadilan, dan karena itu pulalah Aisyah, Thalhah, dan Zubair menyatakan pemberontakan mereka terhadap Ali, Imam al-Huda.
Bersama 2 sekongkolnya, Ummul Mukminin bergerak meninggalkan Makkah menuju Basrah. Kota Basrah hendak mereka jadikan sebagai basis pertahanan. Dari Basrah, mereka dapat menyerang Ali. Ditengah perjalanan, sebetulnya terdapat kejadian2 yang membuat Ummul Mukminin merasa mengetahui siapa sesungguhnya berada dipihak yang benar, Aisyah merasa bahwa kebenaran berada dipihak Ali dan para pengikutnya. Hal itu dia ketahui berdasarkan ucapan yang sangat gamblang dari Nabi saw.
Gonggongan2 anjing telah menghadangnya ditengah jalan, namun dia tetap enggan untuk kembali pulang. Ummu Salamah mengirimkan sepucuk surat kepada Aisyah, yang isinya antara lain: "Apakah yang akan engkau katakan dihadapan Rasulullah, sekiranya beliau menghalangimu dengan mata pedang karena engkau beralih dari satu penentangan ke penentangan yang lain? Tempat kembalimu sudah dijanjikan Allah, tetapi mengapa engkau masih menentang Rasulullah? Sekiranya aku yang diminta Allah untuk masuk kesurga Firdaus, aku pasti malu bertemu Rasulullah karena telah melanggar hijab yang dipakaikan Allah kepadaku."
Ummul Mukminin Aisyah sudah memilih untuk menjadi salah seorang kepala pemberontak melawan Ali, apapun yang terjadi, dia tidak akan mundur. Oleh karena itu, dia tetap berangkat bersama tentaranya hingga mencapai Basrah. Mereka memilih tempat yang disebut al-Rabad. Disana, Zubair, Thalhah, dan Ummul Mukminin masing2 berpidato.
Pemberontakan Aisyah ini menimbulkan kecemburuan ditengah sebagian umat Islam yang merasa tidak sampai hati melihatnya terjun langsung memimpin peperangan. Oleh karena itu, banyak orang yang bersimpati ikut membela beliau. Bukan karena percaya bahwa yang dibelanya adalah kebenaran, tetapi lebih karena Aisyah sebagai istri Nabi saw dan Ummul Mukminin sangat pantas untuk dibela. Banyak diantara pasukannya ikut berperang, agar keselamatan Aisyah tetap terjaga. Mereka semua merasa resah atas pemberontakan yang dipimpin langsung oleh Aisyah, padahal Allah telah memrintahkan kepada Aisyah untuk tetap tinggal dalam rumah. Jariyah bin Qudamah al-Sa`di berujar kepada Aisyah, "Wahai Ummul Mukminin, demi Allah, terbunhnya Utsman lebih ringan bagi kami dibandingkan keluarnya engkau saat ini, diatas unta yang terkutuk ini, hingga keselamatan dirimu sendiri menjadi terancam! Allah sudah memberikan hijab untukmu, tetapi engkau sendiri yang melanggarnya, Sungguh, kelompok yang berpendapat membolehkan berperang melawanmu berarti juga menghalalkan darahmu."
Disaat memasuki kota Basrah, Abu al-Aswad juga berkata kepada Aisyah, "Sesungguhnya anda ini tidak perlu kami jaga dengan tongkat, pedang, dan senjata kami. Anda sendiri merupakan orang yang tidak dibolehkan keluar oleh Rasulullah. Anda diperintahkan untuk tetap berada dirumah, tetapi sekarang anda membuat orang saling membunuh."
Mereka telah memasuki Basrah. Setelah berlangsung pembicaraan serius dan saling bertukar pendapat, Aisyah dan Utsman bin Hunaif yang menjadi utusan Ali kepada Aisyah mencapai kata sepakat bahwa Utsman boleh tinggal agar bisa menulis surat kepada Ali.
Tak sampai 2 hari setelah kesepakatan itu, Thalhah, Zubair, dan Marwan bin Hakam langsung menusuk Utsman. Dimalam yang gelap dan gerimis, Utsman yang waktu itu sedang tertidur pulas siap untuk mereka habisi. Agar mencapai kepada Utsman, mereka harus membunuh 40 orang penjaga. Hanya saja kemudian, Aisyah membebaskan Utsman dan cukup mencabuti jenggot, alis dan bulu matanya.
Ketika Ali telah mengetahui berita mengenai keberangkatan pasukan Aisyah ke Basrah, langsung bergerak meninggalkan Madinah. Maksud Ali adalah menghadang mereka ditengah jalan. Dalam pasukannya Ali ditemani oleh rombongan sahabat dari kaum Muajirin dan Anshar. Namun, pasukan Aisyah bergerak lebih cepat dan sampai lebih dulu di Basrah. Ali mengumpulkan informasi intelijen terdulu ketika berada antara Rabadzah, dekat Kuffah. Sebelum akhirnya memutuskan untuk terus ke Basrah.

Di Basrahlah pertempuran sengit Ix antara kaum muslimin pecah. Ia merupakan awal dari serentetan beacana yang menyusul dibelakangnya, setelah umat Islam dipersatukan oleh Nabi saw. 2 pasukan kini berhadap2an, menunggu saat mendebarkan ketika genderang perang ditabuh.
Ali maju dan berpidato, memberikan apresiasi dan menebar ancaman dihadapan pasukan itu seraya menyebut2 nama Allah. Namun, jiwa yang sudah kering tidak mau lagi tunduk kepada kebenaran. Kemudian, dengan menggunakan keledai Rasulullah saw, Ali menghampiri pasukan Aisyah. Ali berteriak lantang, "Dimana Zubair?" Lalu, Zubair pun muncul memanggul senjata. "Oh, betapa beraninya anak itu," komentar Aisyah terhadap Zubair. Ketika diberi tahu bahwa Ali tidak memanggul senjata, Aisyah merasa senang. Kedua laki2 itu saling mendekat dan ke-2 kuda mereka bertemu sembari menyenggol2kan leher.
Ali berkata kepada Zubair, "Ingatkah engkau ketika suatu hari aku bersama Rasulullah berpapasan dengan Bani Ghanam? Nabi memandangku dan beliau tertawa, aku pun ikut tertawa waktu itu. Engkau lalu berujar kepada Rasulullah, 'Ibn Abi Thalib masih saja menyimpan kesombongannya.' Tetapi Rasulullah menampik dan menjawab ucapanmu itu, 'Ali tidak demikian, suatu hari nanti, engkau pasti akan memeranginya, dan engkau berada dipihak yang zalim.'"
Zubair menjawab, "Ya, betul! Sekiranya aku mengingat peristiwa itu, tentu semua ini takkan kulakukan. Demi Allah, aku takkan memerangimu lagi." Ketika itulah Zubair langsung berbalik kepada Ummul Mukminin dengan wajah yang sama sekali berbeda. Katanya setelah sampai didekat Aisyah, "Tak 1pun situasi yang tidak kuketahui bagaimana seharusnya aku harus bersikap, sejak aku baligh, kecuali kali ini."
"Lalu, engkau hendak kemana? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Aisyah kepada Zubair.
"Saya hanya ingin pergi dan meninggalkan mereka," jawab Zubair.
Zubair memang sudah menarik diri dari peperangan ini, namun pasukannya belum juga sadar. Mereka tetap melanjutkan niat, apapun yang terjadi dan bagaimanapun resikonya, bahkan sekalipun nanti berujung dineraka.
Ke-2 pasukan kini sedang berhadap2an. Perangpun lalu berkecamuk sudah. Namun, bagaimanakah peran Ali dalam peperangan ini? Ali bertindak sebagai pengatur strategi, sekaligus pejuang. Disini ketangkasan Ali di Badar, Uhud, dan Ahzab terlihat kembali, dan itulah yang akan kami ringkas. Seperampat abad lamanya pedang Ali(Zulfiqar) berhenti berkelebat, namun hal itu bukan karena sudah lelah, tetapi hanya karena situasi sulit yang sedang beliau hadapi.
Ibn Abi al-Hadid mengungkapkan, "Ali menyerahkan bendera perang kepada anaknya, 'Bawa bendera ini, Nak! Majulah sampai bendera ini terlihat oleh pasukan Jamal. Jangan biarkan ia terkulai jatuh.' Muhammad, sianak, pun maju. Beberapa anak panah datang menyergapnya. Ali berkata kepada anak buahnya, 'Tunggu sampai panah mereka habis! Hingga anak panah mereka tinggal 1 atau 2!' Ali kemudian memerintahkan anaknya untuk maju. Ketika dilihatnya sianak agak ragu2, Ali lalu menyorongnya dari belakang dan meletakkan tangan kirinya diatas bahu kanan anaknya. 'Ayo maju, Nak!' seru Ali, 'Ayah bersumpah!' Muhammad sang anak, selalu menangis bilaman mengingat peristiwa itu. Di melukiskan, 'Seolah2 saya merasakan nafas ayah yang hangat ditengkuk. Demi Allah, saya tidak pernah melupakan itu.'"
Namun kemudian Ali merasa iba kepada anaknya. Dia mengambil bendera itu dengan tangan kirinya, sementara pedang Zulfiqarberada digenggaman tangan kanannya. Bendera itu dibawanya menerobos pasukan Jamal, kemudian dia kembali dan pedang itupun telah bengkok.Pedang itu diluruskan dengan lututnya. Anak buahnya, anak2nya, Malik al-Asytar dan Amar bin Yasir berkata kepada Ali, "Cukuplah kami saja yang berperang, wahai Amirul Mukminin! Anda tidak usah terjun!"
Permintaan itu tidak dijawab dengan kata2, beliau hanya memandang mereka dengan ekor mata. Beliau justru mengaum seperti singa, menyerbu, dan meninggalkan orang2 disekitarnya jauh dibelakang. Ali betul2 ingin menghancurkan pasukan Basrah, tanpa melihat lagi siapa yang ada disekelilingnya, tanpa mau bercakap2 sedikitpun. Bendera yang tadi dibawanya, beliau serahkan kembali kepada anaknya, Muhammad. Setelah itu, diterobosnya kembali barisan pasukan musuh, menebas mereka 1/1, dan orang2 didekatnyapun berlarian karena takut. Beliau meliuk kekiri dan kekanan, sehingga tanah disekitarnyapun dibasahi darah para korban. Pedang beliau kembali bengkok, yang kemudian diluruskan dengan kakinya. Melihat itu, pasukannya merasa semakin kuat. Mereka menyemangatinya dengan menyebut nama Allah dan menyebut2 Islam sembari mengatakan, "Seandainya anda yang terluka, maka agama ini akan hilang(dengan kepergian anda). Berhentilah, cukuplah kami saja yang berperang." Tetapi beliau menjawab, "Demi Allah, semua ini tiada lain kecuali untuk Allah dan akhirat."
Kepada anaknya, Mahammad, beliau berpesan, "Seperti ini engkau nanti, wahai Ibn Hanafiyah."
"Siapa yang bisa menandingi anda, wahai Amir Mukminin?" komentar ana buahnya yang lain.
Ketangkasan Ali memang luar biasa, peristiwa ini hanyalah salah 1 saja. Dalam peperangan ini, dia bertarung melawan Abdullah bin Khalaf al-Khuza'i, seorang pemimpin Basrah, yang paling kaya dan paling banyak hartanya. Abdullah sesumbar meminta lawan duelnya, untuk itu dia tidak sudi kalau bukan Ali. Maka, Ali pun maju, dan tak lama kemudian abdullah tersungkur ketanah dengan kepala tertebas. Begitulah, 1 demi 1 lawan tarung Ali jatuh berguguran.
Perang semakin berkecamuk diantara 2 kubu itu. Namun, tak lama kemudian, tanda2 kekalahan mulai terlihat dipihak musuh. Thalhah dibunuh oleh Marwan bin Hakam.
Perang sudah menelan ribuan korban, karena yang mereka lawan adalah Ali. Pedang Ali memang sudah terkenal dimana2. Ali sendiri juga memiliki keberanian yang sudah dimaklumi ketangguhannnya dan tak akan dilupakan sepanjang masa. Dan unta terkutuk itupun tersungkur ketanah.
Ditengah keramaian itu, ali memerintahkan seseorang untuk berteriak lantang kepada pasukannya, "Dengarsemua! Jangan kejar orang yang lari! Jangan sentuh orang yang terluka! Jangan menyerbu sampai kedalam rumah."
"Coba lihat, apakah Aisyah terluka?" perintah Ali kepada Muhammad bin Abu Bakar.
Muhammad lalu melongok kedalam tandu Aisyah.
"Siapa engkau?" tanya Aisyah.
"Keluargamu yang paling kau benci," jawab Muhammad.
"Ibn Khats'amiyah?" tanya Aisyah.
Dia menjawab, "Ya."
Perang Jamal ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi Aisyah. Bagaimana mungkin dia dapat melakukan semua pembantaian ini? Bagaimana mungkin semua nyawa yang tidak berdosa ini harus tertebas demi keinginan dan kepentingan2nya yang fanatis? Bagaimana jka seandainya dia tetap memelihara hijabnya dan tidak berperang melawan Imam kebenaran dan petunjuk(Ali)? Bagaimana berbedanya posisi yang dulu ditempatina dengan sekarang? Kepada orang yang mengingatkannya akan peperangan ini, Aisyah bercerita bahwa dia berandai bisa meninggal 20 tahun lebh awal.
Dimanapun Ali bertempur, kebenaran selalu berada dipihaknya. Perang Jamal hanya 1 dari sekian banyak peperangan yang diikuti Ali, demi membela kebenaran dengan maknanya yang paling jelas. Baiat dilakukan atas kesepakatan bersama antara Muhajirin dan Anshar, dan semua kaum muslimin yang termasuk ahl al-hall wa al-'Aqd. Kemudian, sebagian kelompok mencagut baiat yang telah diberikannya kepada Ali. Maka, Ali berhak menuntaskan persoalan ini, semua sikap yang diambil Ali memiliki alasan yang betul2 jelas. Terang malamnya sama seperti siang. Ali berperang dan tahu kemana harus menebaskan pedangnya, karena pedang Ali hanya menebas orang yang berhak pergi keneraka. Pedang itu tidak akan pernah salah tebas. Ali sendiri melukiskan, "Semenjak Ix melihat kebenaran, tak pernah terpikirkan olehku untuk ragu2 berjuang demi membelanya." Beliau juga berkata, "Saya punya bukti dihadapan Tuhan dan punya manhaj dari Nabi. Saya berada dijalan yang benar dan saya akan mengikutinya, langkah demi langkah."
"Wahai Amir Mukminin, fitnah terbesar apalagi setelah ini? Sesungguhnya ahli Badar sudah saling bunuh," tana seseorang usai perang Jamal kepada beliau.
Ali berkata kepadanya, "Celakalah engkau! Apakah fitnah akan terjadi, sedangkan aku masih menjadi pemimpin dan komandan umat? Demi zat Yang mengutus Muhammad dengan kebenaran dan memuliakan wajahnya, aku tidak pernah berbohong! Aku juga tidak pernah mendustakan beliau. Aku bukan orang sesat dan tidak pula menyesatkan orang lain. Aku tidak tergelincir dan juga tidak menggelincirkan orang lain. Aku berada dijalan kebenaran Tuhan yang begitu nyata, yang telah dijelaskan Allah kepada Rasul, dan dijelaskan Rasul kepadaku. Dihari kiamat, aku akan mengaku bahwa aku tidak punya dosa, dan sekiranya aku punya dosa, maka dosaku pasti akan diampuni karena memerangi mereka."
Ali, engkau hanya berjalan direl kebenaran. Telah tercantum dalam dunia ghaib bahwa Rasulullah berbicara tentangmu dan melukiskan bagaimana engkau berjalan dijalur yang benar. Beliau berkata, "Ali berada dipihak yang benar dan kebenaran pasti berada dipihak Ali."
Ali bin Abi Thalib, hal 90 - 106 (337 halaman),harga toko: 30.000,-,  karya: Abbas Ali al-Musawi
Penerbit; Penerbit Cahaya
Jl. Siaga Dharma VIII, no; 32 E
Pasar Minggu-Jakarta Selatan
Telp: 021-7987771 (08121068423)
Bagian pemasaran; Bpk Iip
Fax: 021-7987633
Email; pentcahaya@centrin.net.id

posted on September 10, 2008 in gejolak Leave a comment »

Found 82 Blog Posts in 17 pages


Owner:
    bangkiti
  • 33 Male bangkiti is from Indonesia
  • Single
  • Friends: 384
  • Last login: 2 days ago